MAKALAH TAFSIR TUMBUHAN Q.S. ‘ABASA AYAT 24-32

MAKALAH
TAFSIR TUMBUHAN Q.S. ‘ABASA AYAT 24-32
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah 
Tafsir Sains dan Tekhnologi 

Dosen : Ali Machfudz, M.S.I.




Disusun Oleh :
Muh. Amin (1631034)

PRODI ILMU AL QUR’AN DAN TAFSIR V
FAKULTAS USHULUDIN DAN DAKWAH
IAINU KEBUMEN
2018


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan anugrah dari-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang “Tafsir Tumbuhan Q.S Al-Mu’minun ayat 20 ” . Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan besar kita, Nabi Muhammad SAW yang telah menunjukkan kepada kita semua jalan yang lurus berupa ajaran agama islam yang sempurna dan menjadi anugrah terbesar bagi seluruh alam semesta.

Penulis sangat bersyukur karena dapat menyelesaikan makalah yang menjadi tugas tafsir hokum, social, dan budaya dengan judul “Tafsir an-nisa ayat 59”. Disamping itu, kami mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu kami selama pembuatan makalan ini berlangsung sehingga dapat terealisasikanlah makalah ini.

Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Kami mengharapkan kritik dan saran terhadap makalah ini agar kedepannya dapat kami perbaiki. Karena kami sadar, makalah yang kami buat ini masih banyak terdapat kekurangannya



DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL ................................................................................. 1
KATA PENGANTAR ............................................................................... 2
DAFTAR ISI .............................................................................................. 3

BAB I PENDAHULUAN.......................................................................... 4
A. Latar Belakang................................................................................... 4
B. Rumusan Masalah............................................................................... 4
C. Tujuan Penulisan................................................................................. 5

BAB II PEMBAHASAN............................................................................ 6
A. Pengertian Tumbuhan........................................................................ 6
B. Surah Abasa ayat 24-32.................................................................... 6
C. Arti Surah ‘Abasa ayat 24-32............................................................ 7
D. Tafsir Mufrodat................................................................................. 7
E. Munasabah ....................................................................................... 8
F. Penafsiran Surah Abasa ayat 24-32................................................... 10
G. Surat al-Mu’minun............................................................................ 11

BAB III PENUTUP.................................................................................... 14
A. Kesimpulan......................................................................................... 14
B. Saran .................................................................................................. 14

DAFTAR PUSTAKA................................................................................. 15



BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Tumbuhan merupakan salah satu mahluk hidup yang terdapat di alam semesta. Selain itu tumbuhan adalah mahluk hidup yang memiliki daun, batang, dan akar sehingga mampu menghasilkan makanan sendiri dengan menggunakan klorofil untuk proses fotosintesis. Bahkan makanan yang dihasilkannya tidak hanya dimanfaatkan untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk manusia dan hewan. Bukan makanan saja yang dihasilkannya, tetapi tumbuhan juga dapat menghasilkan oksigen (O2) dan mengubah karbondioksida (CO2) yang dihasikan oleh manusia dan hewan menjadi oksigen (O2) yang dapat digunakan oleh mahluk hidup.

Begitu pentingnya tumbuhan bagi kelangsungan hidup dan juga bumi ini. Karena tumbuhan merupakan produsen pertama pada rantai makanan, selain itu juga memiliki peranan penting sebagai penghasil oksigen terbesar bagi kelangsungan hidup mahluk hidup di bumi serta menangani krisis lingkungan.

Tumbuhan merupakan tonggak dari sebagian besar ekosistem terrestrial. Dalam ensiklopedia tematis dijelaskan juga bahwa tumbuhan merupakan kunci kehidupan bumi. Tanpa mereka, organisme lain akan musnah. Ini disebabkan karena kehidupan yang lebih maju bergantung pada tumbuhan, untuk makanan merekabaik langsung maupun tidak langsung.

B. Rumusan Masalah

Adapun permasalahan yang akan dibahas dalam proses penyusunan makalah ini adalah :

1. Pengertian tumbuhan
2. Tafsir surat ‘Abasa ayat 24-32
3. Arti surat ‘Abasa ayat 24-32
4. Tafsir mufrodat surat ‘Abasa 24-32
5. Munasabah surat ‘Abasa ayat 24-32
6. Macam tumbuhan yang ada dalam al-Qur’an
7. Kegunaan tumbuhan
8. Surat al-Mu’minun ayat 20

C. Tujuan Penulisan


Tujuan penulisan makalah ini adalah

1. Untuk mengetahui pengertian tumbuhan
2. Untuk mengetahui surat ‘Abasa ayat 24-32
3. Untuk arti dari surat ‘Abasa ayat 24-32
4. Untuk mengetahui munasabah surat ‘Abasa ayat 24-32
5. Untuk pensfsiran surat ‘Abasa ayat 24-32
6. Untuk mengetahui macam tumbuhan dan keguanannya dalam al-Quran
7. Mengetahui penafsiran al-Mu’minun ayat 20



BAB II
PEMBAHASAN


A. Pengertian Tumbuhan
Ilmu yang mempelajari mahluk hidup disebut dengan ilmu hayat atau biologi. Secara garis besar ilmu ini terbagi menjadi dua cabang, yaitu yang pertama ilmu tumbuh-tumbuhan (botani), yang secara khusus mempelajari flora (dunia tumbuh-tumbuhan. Sedangkan yang kedua adalah ilmu hewani (zoologi) yaitu ilmu yang mempelajari tentang fauna (dunia hewan). Di dalam biologi , mahluk hidup seperti dunia tumbuhan disebut dengan kingdom plantae, dalam tingkatan ilmu yang mempelajari secara khusus tentang tumbuhan disebut juga dengan taksonomi tumbuhan.[1]

Yang dimaksud tumbuhan adalah mahluk hidup yang terdiri atas banyak sel, memiliki akar, batang, juga daun serta kebanyakan berkembang biak dengan menghasilkan bunga dan biji. Beberapa hal yang penting tentang tumbuhan adalah:

1. Sebagai mahluk hidup.
2. Pada organism hidup, struktur sangat erat kaitannya dengan fungsi.
3. Tumbuhan tumbuh dan berkembang dilingkungan dan berinteraksi dengan lingkungan.

B. Surah ‘Abasa ayat 24-32 dan Terjemahannya


(فَلْيَنْظُرِ الْاِنْسَنُ اِلَى طَعَامِهِ (24

(اَنّا صَبَبْنَا الْمَاءَ صَّبًا (25

(ثُمَّ شقَقْنَا الْاَرْضَ شَقَّ (26

(فَاَنْبَتْنَا فِيْهَا حَبًّا (27

(وَعِنَبًا وَقَضْبًا (28

(وَزَّيْتُونًا وَنَخْلاً (29

(وَحَدَائِقَ غُلْبًا (30

(وَفَكِهَةً وَاَبًّا (31

(مَتَعًا لَكُمْ وَلِاَنْعَمِكُمْ (32


C. Arti surah ‘Abasa ayat 24-32


24. Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.
25. Sesungguhnya kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit)
26. Kemudian kami belah bumi dengan sebaik-baiknya,
27. Lalu kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu,
28. Anggur dan sayur-sayuran,
29. Zaitun dan kurma,
30. Kebun-kebun (yang) lebat,
31. dan buah-buahan serta rumput-rumputan,
32. Untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.


D. Tafsir mufrodat


شَقَقْنَا : kata syaqaqna adalah fi’il madi yang dihubungkan dengan damir “na” (kami) yang artinya kami belah, kami bukakan atau kami rekah. Ayat 26 ini menggambarkan betapa Allah SWT telah menganugrahkan dan melimpahkan berbagai macam makanan yang dibutuhkan manusia dalam kehidupan mereka di dunia. Allah SWT mencurahkan air hujan di muka bumi ini dengan sangat cukup, kemudian merekahkan permukaan bumi supaya terbuka dan mendapat sinar matahari dan udara juga masuk menyuburkan bumi. Bumi menjadi subur dan segala macam tanaman pun tumbuh dimuka bumi baik biji bijian, sayur-sayuran, buah-buahan dan segala macam yang dibutuhkan manusia. Kata syaqaqna dengan menggunakan fiil madzi di sini bukan berarti terjadi pada masa lampau, tetapi menunjukan benar-benar terjadi, pasti terjadi, sebagaimana kisah-kisah tentang kiamat dan peristiwa hari akhirat yang menggunakan fi’il madi adalah menunjukan hal itu benar-benar terjadi.[2]

غُلْبًا: ghulb artinya lebat, pohon-pohon yang rindang, banyak daun dan cabang-cabangnya. Kata al-ghalb adalah bentuk isim masdar fi’il ghalaba- yaghlibu- ghalban wa ghalbatan yang artinya mengalahkan atau mengatasi. Ayat 30 yang berbunyi “wa hadaiqa ghulban” adalah ‘ataf atau sambungan dari ayat-ayat sebelumnya yaitu ayat 27, 28, 29 dan 30 yang artinya ; maka kami tumbuhkan di sana biji-bijian, anggur, sayur-sayuran, zaitun, kurma dan kebun- kebun yang rindang. Dalam kalimat ini, kata ghulban adalah sebagai maful mutlaq yang menunjukan jenis tumbuh-tumbuhan yang lebat dan rindang. Hal ini sesuai dengan kebutuhan manusia pada suasana kesejukan dimana sinar-sinar dan panas matahari diserap oleh daun-daun yang hijau sehingga udara di sekelilingnya menjadi sejuk dan segar, seperti sering dikatakan hutan yang lebat adalah paru-paru dunia.

اَبًا : adalah rerumputan tanpa manusia menabur benih-benihnya. Sekaligus yang bisa dimakan oleh hewan ternak seperti halnya keledai dan lain-lain.

E. Munasabah Ayat


Hubungan surah ‘Abasa ayat 24-32 dengan ayat-ayat yang lain masih berkaitan. Seperti dalam Q.S al-Baqoroh ayat : 22[3]


اَلّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ فِرَشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَاَنْزَلَ مِنَ السَّاءِ مَاءً فَاَخْرَجَ بِهِ مِنَالثَمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ , فَلاَ تَجْعَلُوْا لِلَّه اَنْدَادًا وَانْتُمْ تَعْلَمُوْنَ 


Artinya : Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagi rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.
Selain surat ‘Abasa mempunyai munasabah dengan Q.S al-Baqoroh ayat 22, juga mempunyai munasabah lagi dengan Q.S Thaha ayat 53-54 dan surat Yunus ayat 24.

Dari beberapa ayat tersebut memberikan isyarat bahwa interaksi tumbuhan dengan mahluk hidup lain seperti hewan dan manusia. Untuk itu ekologi memberi kedudukan pada tumbuhan sebagai produsen dan hewan atau manusia sebagai konsumen. Secara ekologis tumbuh-tumbuhan sebagai produsen memiliki peranan yang sangat penting. Kemampuan tumbuhan untuk mengubah energy dari matahari berupa cahaya menjadi energy kimia tidak dapat dilakukan oleh organism lain. Perubahan ini hanya dapat dilakukan oleh tumbuhan melalui peristiwa fotosintesis, itupun hanya bisa dilakukan oleh tumbuhan yang memiliki klorofil. Peristiwa tranformasi energy ini adalah fenomena alam yang patut untuk dijadikan bahan renungan. Perenungan akan kebesaran Sang Pencipta dan perenungan betapa pentingnya pelestarian alam termasuk tumbuhan

Terdapat suatu kisah yang diriwayatkan tentang seseorang penghuni surga. Tatkala ditanyakan kepaadanya perbuatan apakah yang dilakukan di dunia sehingga ia menjadi penghuni surga? Dia menjawab bahwa selagi ia di dunia, ia pernah menanam sebatang pohon. Dengan sabar dan tulus pohon itu diperhatikannya sehingga tumbuh besaar dan subur. Menyadari akan keadaannya yang miskin ia teringat bunyi hadis, “Tidaklah seseorang muslim menanam tanaman atau menyemaikan, kemudian buah atau hasilnya dimakan manusia atau burung, melainkan yang sedemikian itu adalah sedekah.[4]

Didorong keinginan untuk bersedekah, maka ia membiarkan orang berteduh di bawahnya, dan diikhlaskannya manusia serta burung memakan buahnya. Sampai ia meninggal, pohon itu masih berdiri hingga setiap orang musafir yang lewat dapat istirahat berteduh dan memetik buahnya untuk dimakan atau sebagai bekal perjalanan. Bukan hanya manusia tetapi burungpun ikut menikmatinya.

Dalam surat al-An’am ayat 99 yang artinya “Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan. Maka kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang kurma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai dan kebun-kebun anggur, dan (kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulahlah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman”

Surat al-An’am ayat 99 tersebut isi keseluruhannya menunjukan kekuasaan Allah swt. Yang mana menceritakan tentang kaum musyrikin yang telah mengaku dan percaya bahwa yang menciptakan alam semesta ini adalah Allah swt tanpa mempersekutukan Allah dengan yang lain. Namun mereka menyekutukan Allah dalam hal pengaturan dan penyelenggaraan alam. Mereka mengakui bahwa Allah yang menciptakan alam tetapi dalam hal memelihara alam mereka menyekutukannya. Mereka mengakui tauhid uluhiyyah, tetapi tidak mengikuti tauhid rububiyah.

Oleh karena itu, mereka menyediakan hasil lading atau hasil ternak, sebagian untuk Allah dan sebagian untuk berhalanya. Maka Allah menurunkan ayat ini untuk menunjukan kepada mereka bahwa bukan saja Allah menciptakan alam, bahkan terus-menerus menciptakan. Selepas diciptakan alam, ditumbuhi pula dengan tumbuh- tumbuhan. Allah menurunkan hujan dari awan, kemudian mengeluarkan tumbuh-tumbuhan yang berbagai bentuk, mempunyai cirri-ciri tersendiri serta berbeda kelebihan dan kekurangan.

Seruan ini mengajak manusia memperhatikan bagaimana proses pembesaran tumbuhan yaitu dari biji benih yang zahirnya seperti tidak member manfaat, namun akhirnya dari biji benih tersebut terhasillah tumbuh-tumbuhan yang member manfaat kepada manusia. Sebagai contoh sesuatu tanaman yang sebelumnya hanya sebatang kayu, kemudian menjadi kurma, anggur, delima dan zaitun yang mempunyai berbagai bentuk, rasa, rupa dan oroma.

Dalam surat an-Nahl ayat 11 juga diterangkan bahwa dari air, terhasillah buah-buahan yang bermacam-macam bentuk dan rasa yang merupakan bukti bahwa tiada Tuhan selain Allah swt. Al-Razi berpendapat bahwa jirim-jirim alam yang mulia adalah hewan dan setelahnya adalah tumbuhan. Terdapat tumbuhan yang digunakan untuk hewan ternak, dan terdapat pula tumbuhan yang untuk dimanfaatkan oleh manusia. Bukti-bukti penciptaan Allah swt menjadi suatu hikmah untuk manusia dan hujjah terhadap orang kafir.


F. Penafsiran surat ‘ Abasa ayat 24-32

Dalam kitab tafsir yang ada terdapat tafsiran para mufasir yang menafsirkan surah Abasa ayat 24-32 sebagai kenikmatan, kesenangan dan juga manfaat pada tumbuh-tumbuhan yang sudah diciptakan oleh Allah swt untuk manusia serta hewan ternaknya. Seperti dalam tafsir al-Qur’an al-Azim karya ibnu katsir yang menyatakan pada ayat 24 mengandung penyebutan nikmat Allah swt sekaligus menunjukan bahwa jasad-jasad ini setelah menjadi tulang belulang yang hancur dimakan tanah dan bercerai berai akan dihidupkan lagi. Hal ini diutarakan melalui analogi dihidupkan-Nya tetumbuhan dari tanah yang mati.[5]

Yang dimaksud kenikmatan oleh Allah menurut Ibnu Katsir adalah sesuai runtutan berikut:

1. Allah menurukan hujan dari langit.

2. Dan menempatkan air tersebut ke dalam bumi kemudian masuk melalui cela-celahnya sehingga meresap biji-bijian yang tersimpan di dalam tanah dan tumbuhlah tumbuhan yang muncul dan meninggi.

3. Seperti halnya anggur, al-Qadb yang berarti sejenis sayuran yang dimakan oleh ternak dengan mentah-mentah. Seperti dikatakan oleh Ibnu Mas’ud, Qatadah, Ad-Dahhak dan As-Saddi, dan Hasan al-Basri mengatakan al-Qadb adalah makanan ternak.

4. Buah zaitun dapat dijadikan lauk, begitu pula dengan minyaknya yang dapat digunakan untuk meminyaki tubuh dan sebagai bahan bakar penerangan. Sedangkan buah kurma dapat dimakan dalam keadaan gemading atau sudah masak, dapat dijadiakn sale, dan perasannya dapat diminum serta dijadikan cuka.

5. Kata Ghulban diartikan kebun-kebun yang rindang. Menurut al-Hasan al-Basri dan Qatadah Qhulban adalah pohon kurma yang besar lagi rindang. Menurut Ibnu Abbas dan Mujahid adalah pepohonan yang lebat dan dapat dijadikan naungan.

6. Kata Fakihah diartikan sebagai semua jenis buah-buahan yang dimakan untuk bersenang-senang. Ibnu Abbas mengatakan bahwa Fakihah adalah buah yang dimakan dalam keadaan segar, sedangkan al-abb diartikan sebagai tetumbuhan yang hanya dimakan oleh binatang ternak dan tidak dimakan manusia.


H. Surat al-Mu’minun ayat 20


وَشَجَرَةً تَخْرُجُ مِنْ طُوْرِ سَيْنَاءَ تَنْبُتث بالدُّهْنِ وَصِبْغٍ لِلْاَكِليْنَ 


Artinya : Dan pohon kayu keluar dari Thursina (pohon zaitun), yang menghasilkan minyak, dan pemakan makanan bagi orang-orang yang makan.

I. Arti Mufrodat


1. وَشَجَرَةً : dan pohon

2. تَخْرُجُ : yang keluar

3. مِنْ : dari

4. طُوْرِ سَيْنَاءَ : thursina

5. تَنْبُتُ : menghasilkan

6. بِالدُّهْنِ : minyak

7. وَصِبْغِ : dan pemakan

8. لِلْاَكِلِيْنَ : bagi orang-orang yang makan



J. Kosa Kata



Dalam ayat 20 surat al-Mu’minun disebutkan pohon zaitun secara khusus karena tempatnya hanya khusus di negeri Syam dan karena manfaat-manfaat yang dihasilkannya.[6]


K. Macam Penafsiran al-Mu’minun Ayat 20

1. Tafsir Jalalain

(Dan) kami tumbuhkan pula pohon kayu yang asal tumbuhnya dari Thursina), dapat dibaca Sina dan Saina dengan tidak menerima tanwin karena menjadi ‘Alamiyah, artinya nama sebuah bukit. Jika tidak menerima tanwin karena ilat ta’nist, maka berarti nama sebuah lembah. (Yang menghasilkan) dapat dibaca tunbitu dan tanbutu (minyak), jika dibaca tunbitu maka huruf Ba dianggap huruf zaidah, bila menurut bacaan yang kedua yaitu tanbutu maka huruf Ba dianggap sebagai huruf ta’diyah yang menggandengkan fi’il dengan maf’ul; pohon yang dimaksud adalah pohon Zaitun. (dan sebagai penyedap bagi orang-orang yang makan) lafal ini diathafkan kepada lafadz baid-duhni, sehingga lafadz wa shibghi lil akilina. Artinya sebagai penyedap suapan yang dicelupkan kepadanya, kemudian dimakan , yang dimaksud adalah minyak zaitun tersebut.[7]

2. Tafsir Depag

Dan dijadikan pula untuk manusia sejenis pohon kayu yang keluar dari Tursina yaitu pohon zaitun yang banyak tumbuh disekitar gunung itu, yang banyak menghasilkan minyak dan sering digunakan untuk melezatkan hidangan makanan dan pada akhir-akhir ini dapat pula dijadikan sabun kecantikan.

3. Tafsir al-Azhar

Di antaranya ialah semacam kayu yang tumbuh di bukit-bukit Thursina, ataupun di bukit-bukit lain yang sama tanah dan udaranya dengan di gunung Thursina itu, seperti pegunungan-pegunungan sekitar Palestina, tanah Syam, bukit-bukit Libanaon, kayu itu bernama kayu zaitun. Minyak zaitun terkenal karena dapat dipergunakan untuk menyalahkan lampu atau untuk mengilatkan papan dinding rumah ataupun campuran bumbu masakan.[8]


BAB III
PENUTUP


A. KESIMPULAN

1. Tumbuhan adalah mahluk hidup yang terdiri atas banyak sel, memiliki akar, batang, juga daun serta kebanyakan berkembang biak dengan menghasilkan bunga dan biji.

2. Dalam al-Qur’an yang menerangkan/berkaitan dengan tumbuhan diantaranya adalah surat ‘Abasa ayat 24-32, surat al-An’am ayat 99, surat Thaha ayat 53-54, surat Yunus ayat 24 dan surat al-Mu’minun ayat 20.

3. Dalam surat ‘Abasa di sebutkan beberapa jenis tumbuhan dan kegunaannya diantaranya:

a. Al-qadb diartikan sejenis sayuran tuk makanan ternak
b. Qhulban diartikan kebun-kebun yang rindang
c. Fakihah diartikan sejenis buah-buahan yang dimakan untuk bersenang-senang
d. Buah zaitun dapat dijadikan lauk, dijadikan minyak tuk meminyaki badan, sebagai penerangan.
e. Buah kurma dapat dimakan, dijadikan sale dan dapat dijadikan cuka.


B. SARAN DAN KRITIK


Demikian makalah yang kami susun, semoga bermanfaat. Apabila terdapat kesalahan kata dan penyusunan kami memohon kritik dan saran serta permohonan maaf yang sebesar-besarnya.


DAFTAR PUSTAKA

Badi’atul hikmah,Manfaat tumbuhan bagi manusia, diakses pada 20 Nofember 2018 jam 19.00 WIB.

http://tafsirmanusia.Blogspot.com/2012/09/an-nahl-1-20.html?m=1, diakses pada 20 Nofember 2018 jam 19.00 WIB.

http://kongaji.Tripod.com/myfile/Al-Mu’minun-ayat-18-22. Html. Diakses pada 20 Nofember 2018 jam 19.00 WIB.

http://tafsirweb.com/5912-surat-al-mu’minun-ayat-20.html. diakses pada 20 Nofember 2018 jam 19.00 WIB.


[1] . Badi’atul hikmah. Pdf Manfaat Tumbuhan Bagi Manusia hal 26.
[2] . Badi’atul hikmah. Pdf Manfaat Tumbuhan Bagi Manusia hal 38
[3] . Op. cit, hlm. 40
[4] . Badi’atul hikmah. Pdf Manfaat Tumbuhan Bagi Manusia hlm. 43
[5][5] . Badi’atul hikmah. Pdf Manfaat Tumbuhan Bagi Manusia hlm. 69
[6] . https://tafsirweb.com/5912-surat-al-mu’minun-ayat-20.html. diakses 20 Nof 2018 jam 19.00 WIB.
[7] . https://tafsirmanusia.blogspot.com/2012/09/an-nahl-1-20.html?m-1. Diakses 24 Nof 2018 jam 19.00 Wib
[8] .http://kongaji.tripod.com/myfile/al-Mu’minun-ayat-18-22.html. diakses 20 Nof 2018 jam 19.00 WIB

Contact form

Send

Archive